Suatu hari, Nabi Muhammad SAW akan pergi ke masjid. Seperti biasanya, beliau pun selalu melewati jalan itu karena konon memang hanya itu jalan satu-satunya. Setiap melewati jalan itu, Nabi Muhammad SAW dihina, dicaci, diludahi, bahkan dilempari kotoran oleh seseorang. Nabi Muhammad SAW berusaha bersabar dan bersabar.
Malaikat Jibril menawarkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk membalas kelakuan orang itu. Namun, Nabi Muhammad SAW berkata, “Tak usah ya, Jibril. Sahabat itu belum mengenal Islam. Biarkanlah dia dengan perilakunya.” Dan terjadilah penghinaan itu terus-menerus.
Namun, hari itu sungguhlah teramat berbeda. Nabi Muhammad SAW tidak bertemu dengan orang yang biasa menghinanya. Tak terlihat orang itu duduk dan menunggu Nabi Muhammad SAW yang biasa lewat jalan itu. Tentu saja kondisi itu justru mengherankan Nabi Muhammad SAW. Maka, beliau pun berusaha mencari tahu tentang nasib orang tersebut.
Maka, diketahuilah bahwa orang itu sedang sakit keras. orang itu tidak bisa bangun dari tidurnya. Sehari-hari sorang itu hanya meringkuk di tempat tidur.
Begitu mendengar kabar itu, Nabi Muhammad SAW pun segera bergegas pergi. Beliau pergi untuk menengok orang yang sedang sakit itu. Sama sekali beliau tidak menghiraukan pengalamannya yang dihina, dicemooh, dicaci, bahkan disakiti. Nabi Muhammad hanya berkeinginan untuk segera bertemu dengan orang itu dan ingin mengetahui kondisi yang sebenarnya.
Setiba di depan pintu rumah orang itu, Nabi Muhammad SAW segera mengetuk pintu. Hanya suara lemah yang terdengar. Suara lemah yang menggambarkan bahwa orang yang membalas salam tersebut dalam keadaan sakit keras. Langsung saja pintu rumah dibukanya. Dan tiba-tiba Nabi Muhammad SAW terbelalak ketika melihat kondisi orang itu yang terkulai lemah di ranjangnya.
Ketika mengetahui orang yang menengoknya adalah Nabi Muhammad SAW, orang itu pucat pasi. Keringat dingin mengucur deras sebagai pertanda rasa ketakutan yang teramat sangat. orang itu ketakutan karena disangkanya Nabi Muhammad SAW akan membalas dendam. Semakin Nabi Muhammad SAW mendekati dirinya, orang itu semakin pucat pasi.
Ketika sudah berada di sampingnya, tak disangka Nabi Muhammad SAW meletakkan tangan lembutnya di dahi. Lalu, tangan Nabi Muhammad SAW mengusap-usap tangan orang itu. Dengan suara lembut, Nabi Muhammad SAW bertanya tentang penyakit dan perasaan yang dirasakannya.
Mendengar bahasa halus Nabi Muhammad SAW, orang itu gemetar, perasaannya berkecamuk. orang itu tak pernah menyangka bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki watak yang sedemikian mulia. Sama sekali Nabi Muhammad SAW tidak menampakkan rasa dendamnya. Justru Nabi Muhammad SAW memerlihatkan kepribadiannya yang penyayang dan penyantun. Sungguh perilaku Nabi Muhammad SAW itu mengetuk hati orang itu. Tiba-tiba, orang itu mencium tangan Nabi Muhammad SAW. Dengan suara gemetar, orang itu berusaha berkata-kata.
“Wahai Muhammad. Ketika engkau akan beribadah, saya selalu mengganggumu. Saya selalu menyakitimu. Saya selalu berusaha agar kamu tidak dapat beribadah dengan segala caraku. Namun, semua usahaku ternyata gagal. Hari ini, saya sedang sakit. Tak seorang pun teman-temanku menengokku. Justru kamu adalah orang yang pertama menengokku. Sungguh hatimu teramat mulia. Maka, persaksikanlah wahai Muhammad, bahwa saya masuk Islam.”
Subhanallah ,,, begitu mulianya nabi Muhammad SAW
BalasHapusSubhanallah... Berbuat baik kpd orang yg jahat kpd kita pasti sngtlah berat utk org biasa spt Kita, tp tdk bagi Rosulullah SAW
BalasHapusSubhanallah... Berbuat baik kpd orang yg jahat kpd kita pasti sngtlah berat utk org biasa spt Kita, tp tdk bagi Rosulullah SAW
BalasHapus