Rabu, 29 Maret 2017

LELAKI YANG MENGHENTIKAN BADAI PADANG PASIR

Yacouba Sawadogo hidup di tengah sabuk gurun pasir Sahel, Sahara, Burkina Fasso, Afrika.

Tahun 1970-an, daerah ini adalah neraka dunia. Suhu panas  menjerang tulang, badai pasir menggulung desa-desa menjemput maut.

Ternak mati, tanaman enggan hidup, ribuan orang tewas kelaparan. Hanya ada satu dua jenis tanaman yang tahan, dan hanya ada semut-semut dan rayap gurun yang betah di situ. Hujan datang hanya setahun sekali. Begitu turun, airnya pergi dan menguap lagi dengan cepat. Air pun tak mau berakrab ria dengan manusia-manusia di situ. Dataran segera menjadi panas lagi. Angin pun memuai dan menjadi badai.

Yacouba tak ingin menyerah. Dia yakin bahwa tanah, air dan matahari seharusnya menjadi kawan bagi manusia. Dia memikirkan bagaimana menghentikan badai, menabung air, dan menghadirkan lagi hutan.

Berbekal cangkul dia menggali ratusan lubang, kira-kira seukuran 60x60 cm. Ke dalam lubang, dia masukkan daun-daun tetanaman.

Kemudian, dia bongkar gunung-gunung kecil sarang semut dan rayap, dan memindahkan semut itu ke lubang-lubang itu. Maka semut dan rayap memakan daun itu. Kemudian, semut dan rayap itu menggali lebih dalam lagi lubang-lubang itu. Mereka membentuk semacam terowongan-terowongan kecil yang menghubungkan ratusan lubang itu satu sama lain.

Ketika hujan turun, maka air mengisi lubang dan urat-urat buatan rayap-rayap ini. Air terperangkap di situ lebih lama, dan menjadikan tanah basah dan lembab. Kemudian mulailah Yacouba menebar bibit pohon keras maupun tanaman pangan jewawut (barley).

Sistem pengelolaan alam seperti ini dalam bahasa lokal disebut zai. Dari saat menggali lubang hingga menanam bibit, penduduk setempat menyebut dia orang sinting.

Bagaimana mungkin tumbuhan bisa hidup di padang pasir. Tapi Yacouba bergeming. Dia tetap yakin dengan tindakannya.

Betul...Perubahan kelembaban tanah itu berbuah. Bibit yang ditanam tumbuh! Pohon keras tumbuh! jewawut tumbuh.

Dari tahun 1975 saat dia gali lubang, hingga 2005, sudah 25 hektar padang pasir terhijaukan. Sekarang mungkin lebih.

Hutan tumbuh mengundang datangnya burung. Di kaki burung menempel berbagai biji yang dia bawa dari belahan lain Afrika. Maka tumbuh pulalah bibit itu menjadi pohon. Makin luaslah daerah hijau.

Dataran Sahel hijau lagi, penduduk tak lagi sulit mencari air. Tak ada lagi kelaparan karena setiap saat mereka panen jewawut. Kendaraan bermotor roda tiga bulak-balik memanen jewawut.

Daerah itu menjadi hijau, tanah menjadi subur dan lembab. Suhu di situ tak terlalu panas sehingga tak terbentuk angin panas yang mengamuk dan menebar badai. Orang gila itu ternyata mampu membangun surga kecil di tengah Sahara.

Yacouba adalah contoh bagaimana memperlakukan air, tanah dan matahari sesuai dengan tepat. Zai adalah kearifan lokal dalam mengelola alam.

Yacouba menjadi inspirasi Afrika dan dunia. Dia begitu dihargai dan dihormati. Metoda zai-nya dipraktikkan di beberapa bagian Afrika, dan berhasil.

Dua atau tiga puluh tahun lagi padang pasir Afrika mungkin akan jadi hutan lagi.

Sementara hutan-hutan kita hilang, dan kita takut tanah air kita menjadi padang pasir... Janganlah...

*Copas dari grup Petani Madrasah Al Filaha.

Selasa, 21 Maret 2017

[Keadilan ISLAM] Kisah Orang Yahudi dan Sultan Sulaiman Al-Qanuni

[Keadilan ISLAM] Kisah Orang Yahudi dan Sultan Sulaiman Al-Qanuni

Chanelmuslim.com – Kita sekarang berada di Istanbul, pada masa berkuasanya Sultan Sulaiman Al-Qanuni. Pada masanya, Dinasti Turki Utsmani mencapai puncak kejayaannya. Kala itu, Turki Utsmani hidup dalam zaman keemasan.

Sultan Sulaiman bermaksud membangun sebuah mesjid yang berbeda dengan masjid-masjid lainnya. Ia ingin membangun masjid yang lebih megah daru masjid-masjid yang telah dibangun nenek moyangnya. Masjid yang akan dibangun harus besar, megah, dan indah, harus menjadi ikon kemegahan Istanbul. Para pembesar kota menyebar ke seluruh penjuru untuk mendapat lokasi yang tepat untuk masjid tersebut.

Ada banyak lokasi pilihan. Namun hanya ada satu lokasi terbaik, terluas, dan terindah. Maka dipilihlah lokasi itu untuk membangun masjid.

Panitia pembangunan menghadapi sedikit kendala. Di lokasi tersebut terdapat gubuk kecil milik seorang Yahudi. Untuk memperlancar proses pembangunan, gubuk tersebut harus dirobohkan dahulu.

Panitia mengetuk pintu gubuk, dan keluarlah dari dalamnya seorang Yahudi.

“Baik, ada urusan apa kalian datang kemari?” Tanya si Yahudi.

“Kami adalah para punggawa sultan. Kami mendapat perintah agar membangun masjid. Kami sedang mencari sebuah lokasi yang tepat untuk itu.”

“Apa yang bisa aku lakukan untuk membantu kalian? Aku bukanlah seorang ahli bangunan.”

“Iya, tanah ini dipilih untuk menjadi bagian dari masjid yang akan dibangun, sementara gubukmu berada di dalamnya. Karena itu, gubuk ini harus dirobohkan.”

“Apakah kalian hendak merobohkan gubukku?”

“Kami akan membelinya. Berapa harga yang kau minta?”

“Tidak…aku tidak bermaksud menjualnya.”

“Kami akan membayarmu dengan harga yang pantas. Kamu dapat membeli rumah yang lebih layak daripada gubuk kecil ini.”

“Tidak…tidak…aku merasa nyaman dengan gubuk ini. Benar gubuk ini kecil, tetapi ia berada di tempat terbagus sebagaimana kalian juga tahu. Dari sini aku bisa melihat pemandangan pantai teluk.”

“Kami akan membayar dengan harga berlipat-lipat.”

“Tidak…aku tidak bermaksud menjualnya. Selain itu, gubuk ini dekat dengan tempat kerjaku.”

Mereka merasa tidak berguna lagi membujuk si Yahudi yang keras kepala itu. Mereka pun memutuskan untuk menghadap sultan. Mereka duduk lesu di hadapan sultan.

“Yang Mulia, ada sebuah bangunan gubuk milik seorang Yahudi. Lokasinya tepat di tengah tanah yang Tuan kagumi. Kami mencoba membelinya. Namun, si Yahudi itu menolaknya, meski dengan harga berlipat-lipat. Jika Tuan memerintahkan, kami akan mengusir si Yahudi keras kepala itu, lalu merobohkan gubuknya.

Sultan menggeleng-gelengkan kepala pertanda tidak setuju dengan usulan tersebut.

“Tidak…itu bukan kebiasaan kita. Agama kita tidak mengijinkan kita untuk menzhalimi seseorang. Kita harus mencari cara yang tepat…”

Demikianlah, rencana pembangunan masjid terhenti. Semuanya mencari jalan yang sesuai dengan syariat.

Sultan memutuskan untuk meminta pertimbangan dari ulama untuk menyelesaikan masalah ini.

Ulama menjawab, “Yang Mulia, hukum Islam telah sangat jelas dalam melihat masalah ini. Kita tidak bisa memaksakan hukuman apapun kepada si Yahudi, hanya karena ia menolak menjual tanahnya. Gubuk itu  miliknya, dan tidak boleh dirampas dengan paksa. Jika ia mati, anak-anaknya juga berhak untuk menolak menjual gubuk itu, karena syariat Islam mengesahkan perpindahan hak dari seorang ayah kepada anak-anaknya. Tidak ada cara lain, yang mulia, selain berusaha untuk meyakinkan Yahudi itu.”

Sultan berpikir sejenak, kemudian memandang kearah para punggawanya seraya berkata, “Aku sendiri yang akan menemui Yahudi itu. Aku akan membujuknya agar mau menjual gubuknya.”

Demikianlah…akhirnya Sultan Sulaiman Al-Qanuni berangkat menemui Yahudi pemilik gubuk. Ia turun dari kudanya, lalu mengetuk pintu.

Yahudi keluar dari gubuk. Ia melihat sultan telah berdiri diiringi oleh para pungawalnya. Dengan mata bingung, ia mendengar sultan yang memintanya untuk menjual gubuknya. Kali ini, ia tidak kuasa menolak bujukan sultan, apalagi sultan menawarkan harga berkali-kali lipat dari yang ditawarkan punggawanya.

Gubuk Yahudi pun terjual.

Demikianlah…pembangunan Masjid Sulaimaniyah yang besar telah selesai. Masjid tersebut menjadi symbol kemajuan seni arsitektur Islam. Apa yang dilakukan sultan kepada Yahudi menjadi saksi akan keadilan dan rahmat Islam bagi semua umat manusia.

Maha Benar Allah yang telah berfirman: “Dan tiadalah Kami menutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Al-Anbiyaa’:107)

Sumber : Golden Stories Kisah-Kisah Indah dalam Sejarah Islam, Mahmud Musthafa Sa’ad, DR. Nashir Abu Amir Al-Humaidi, Pusataka Al-Kautsar